Dirmanews.com, Tapung Hulu – Petani yang tergabung dalam Koperasi Pusako Sinama Nenek (KOPOSAN) menegaskan tidak akan tinggal diam terkait dugaan penganiayaan dan intimidasi terhadap Ahmad Bahauddin, supir truk pengangkut buah sawit milik masyarakat.
Ahmad diduga dianiaya oleh puluhan orang bertopeng (sebo) yang disebut-sebut merupakan orang diduga preman suruhan Koperasi Nenek Eno Sinama Nenek (KNES), kelompok yang selama ini kerap memicu keresahan karena melarang warga memanen sawit di kebun mereka sendiri.
Salah satu orang yang disebut berada di lokasi kejadian adalah orang yang diduga Kepala Satpam KNES. Ia diduga turut mengarahkan tindakan pelarangan panen dan intimidasi terhadap petani. Atas peristiwa tersebut, warga menilai orang tersebut dan pihak yang terlibat harus bertanggung jawab di hadapan hukum.
Korban Melapor ke Polda Riau
Pada 20 November 2025, Ahmad Bahauddin bersama penasihat hukum KOPOSAN, Hasiholan Malau, SH, mendatangi Mapolda Riau untuk membuat laporan polisi terkait dugaan penganiayaan dan perusakan. Laporan teregister dalam STPL Nomor: STPL/B/481/XI/2025/SPKT/Polda Riau, tertanggal 20 November 2025.
Hasiholan Malau mengecam keras praktik premanisme tersebut. Ia menyampaikan bahwa berdasarkan keterangan saksi, penganiayaan itu disaksikan langsung oleh Kepala Satpam KNES, Yahya. Hasiholan mendesak penyidik Polda Riau untuk bekerja profesional dan mengungkap aktor intelektual di balik aksi tersebut.
Reaksi Warganet dan Warga Sinama Nenek
Di media sosial, warga yang mengetahui peristiwa itu menyebut bahwa orang diduga preman menggunakan sebo bertindak secara “pengecut” karena diduga takut dikenali. Mereka menduga para pelaku bukan warga Sinama Nenek.
Beberapa warganet juga menuding bahwa Yahya mengetuai pergerakan rombongan tersebut sehingga dinilai harus bertanggung jawab. Namun identitas para pelaku dan peran masing-masing masih menunggu pendalaman aparat kepolisian.

Kronologi Penganiayaan
Menurut keterangan yang dihimpun, pada Rabu, 19 November 2025, truk yang dikemudikan Ahmad Bahauddin tengah memasuki kebun sawit masyarakat untuk mengangkut buah sawit. Tiba-tiba sekelompok orang bertopeng menghentikan laju kendaraan tersebut.
Tanpa bertanya, para pelaku diduga langsung memukul kaca depan dan kaca pintu sisi sopir menggunakan bambu hingga pecah berantakan. Sebagian serpihan kaca mengenai Ahmad, yang juga sempat mengalami pukulan di bagian punggung. Korban kemudian melarikan diri ke tengah kebun sawit untuk menyelamatkan diri, sementara para pelaku meninggalkan truk yang telah dirusak.
Ratusan Orang Diduga Preman Terpantau Hadir di Lokasi
Informasi lapangan menyebutkan bahwa ratusan orang yang diduga preman rekrutan KNES terlihat mengikuti apel di area kebun sawit masyarakat, bersama puluhan Satpam KNES. Kelompok tersebut diduga bertujuan menghalangi petani memasuki kebun dan memanen sawit di lahan milik mereka sendiri.
Latar Belakang Konflik KOPOSAN–KNES
Konflik antara KNES dan KOPOSAN disebut terkait lahan kebun sawit seluas 2.800 hektare di Sinama Nenek, Tapung Hulu. Lahan eks PTPN V tersebut telah diserahkan kepada masyarakat Sinama Nenek dan memiliki kekuatan hukum berupa Sertifikat Hak Milik (SHM). SHM tersebut sebelumnya diserahkan oleh Presiden RI saat itu, Joko Widodo, kepada kelompok masyarakat KOPOSAN.
Pihak KOPOSAN menyatakan akan membawa persoalan ini hingga ke pemerintah pusat dan berencana menghadap Presiden RI Prabowo Subianto untuk meminta penyelesaian menyeluruh. (S.Purba)



