Dirmanews.com, Langkat – General Manager MKSO PT SGN Kebun Kwala Madu, Raulina Panjaitan akhirnya angkat suara menanggapi adanya aksi demonstrasi warga di kantornya, beberapa hari lalu. Dimana, massa pengunjuk rasa mempersoalkan kebijakan perusahaan terkait larangan pencari rumput masuk ke areal kebun hingga kualitas tebu stunting.
Dalam keterangannya, Raulina menjelaskan kebijakan larangan masuk ke areal kebun diterapkan menyusul banyaknya laporan mengenai kerusakan tanaman tebu di wilayah Desa Karang Rejo dan Desa Suka Makmur, Kecamatan Stabat.
Sehingga memaksa perusahaan untuk menerapkan kebijakan larangan masuk ke areal perkebunan bagi siapapun termasuk pencari rumput guna menjaga hasil panen dan produktivitas tanaman tebu yang menjadi komoditas utama di kebun tersebut.
“Kebijakan ini diterapkan dalam rangka menjalankan program pemerintah untuk swasembada pangan termasuk tanaman tebu,” kata Raulina, Rabu (21/5/2025) siang.
Raulina membenarkan bahwa pihak perusahaan melarang siapapun untuk masuk ke areal produktif tanaman Plant Cane dan Raton termasuk para pencari rumput.
“Akan tetapi kami memperbolehkan masyarakat yang mau mencari rumput di areal Bera yakni areal yg disitirahatkan sementara. Ini bentuk kepedulian kepada masyarakat di sekitar Kebun Kwala Madu,” sebutnya.
Nah, mengenai tebu stunting, Raulina menjelaskan bahwa varietas tebu yang saat ini ditanam di Kebun Kuala Madu masih jenis varietas lama. Sehingga perlu dilakukan penggantian varietas baru supaya tidak lagi kurus-kurus seperti terkena stunting.
“Varietas yang ada sekarang adalah varietas BZ. Itu varietas yang sudah lama. Tapi nanti pelan-pelan akan kami ganti dengan bibit tanaman baru yakni varietas Nusantara.
Pihaknya meyakini pergantian varietas tersebut akan meningkatkan produktivitas, dengan rendemen yang saat ini di 6,5% menjadi setidaknya 8%.
“Penggantian varietas diharapkan ada peningkatan signifikan, yang artinya tiga tahun kedepan, tahun 2027 kita ditugaskan untuk memproduksi gula dua kali lipatnya”, punkasnya.
Dijelaskan Raulina, pergantian varitas saat ini sudah berlangsung di wilayah Cluster Sumatra 1 sehingga diharapkan secara perlahan varietas lama berkurang hingga 20%.
“Dosis pemupukan saat ini cukup (1300 kg/ha) dan pemeliharaan tanaman sudah mulai baik,” ungkapnya. (Red)



