Dirmanews.com, Medan – Dosen Pendidikan Matematika Universitas Muslim Nusantara (UMN) Al-Washliyah Medan, Dr. Madyunus Salayan, M.Si., melaksanakan program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di SDN 101808 Desa Candirejo, Kecamatan Biru-Biru, Kabupaten Deli Serdang, Jumat (24/03/2023).
Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, sekaligus bagian dari penguatan kontribusi Akademisi UMN Al-Washliyah Medan dalam pengembangan ilmu pengetahuan di bidang pendidikan agar lebih baik ke depannya.
Dalam pemaparan materinya, Dr. Madyunus Selatan, M.Si., yang hadir didampingi Dwi Novita Sari, S.Pd.I. M.Pd., Erni Yunanda, dan Ahmad Fauzi, mengaplikasikan metode talking stick, yakni salah satu metode pembelajaran yang efektif digunakan dalam membentuk karakter peserta didik.
Talking stick adalah metode yang mengadaptasi prinsip komunikasi yang mengutamakan keterlibatan aktif, penghargaan terhadap pendapat orang lain, dan mengembangkan rasa saling menghormati di antara peserta didik.
“Prinsip dasar dari metode ini adalah untuk memastikan bahwa setiap peserta didik mendapat kesempatan yang sama untuk berbicara, mendengarkan orang lain dengan penuh perhatian, serta belajar menghargai pendapat yang berbeda,” jelasnya.
Menurut Madyunus, ada lima tujuan pokok penggunaan metode talking stick. Pertama, menghargai pendapat orang lain. Sebab dalam diskusi dengan metode talking stick, setiap peserta didik mendapat kesempatan untuk berbicara tanpa interupsi.
Tujuan kedua, metode talking stick dapat membantu mengembangkan kemampuan mendengarkan dengan aktif. Sebab salah satu elemen penting dalam model ini adalah kemampuan mendengarkan.
Ketiga ialah mengelola emosi dan kesabaran. Hal ini dikarenakan metode talking stick mampu mendorong peserta didik untuk mengelola emosi mereka, terutama dalam situasi di mana mereka harus menunggu giliran untuk berbicara.
Keempat, metode talking stick dapat meningkatkan rasa percaya diri peserta didik. Pasalnya dalam metode ini, berbicara di depan teman-teman dengan dukungan sistem yang adil dan terstruktur dapat meningkatkan rasa percaya diri peserta didik.
Sedangkan tujuan kelima ialah mengembangkan kerjasama dan empati peserta didik. Sebab metode talking stick mengajarkan pentingnya kerjasama dalam kelompok, khususnya dengan memberikan kesempatan berbicara pada setiap peserta didik, misalnya dalam diskusi.
Madyunus menyatakan, metode talking stick umumnya diimplementasikan melalui sistem pembelajaran yang diintegrasikan dalam bentuk diskusi kelompok, pemecahan masalah, atau debat. Dalam metode ini, seorang guru akan memberikan tongkat sebagai simbol siapa pihak yang berhak berbicara dan juga memfasilitasi agar setiap peserta didik merasa dihargai.
“Proses ini bukan hanya kesempatan berbicara, tetapi juga tentang mendengarkan dengan penuh perhatian dan memberikan respons yang konstruktif,” jelasnya.
Selain itu, sambung Madyunus, ketika seorang guru menerapkan metode talking stick, dia akan mampu membimbing peserta didik secara optimal untuk lebih terlibat aktif dalam proses pembelajaran, meningkatkan keterampilan sosial mereka, dan membentuk karakter positif peserta didik untuk saling menghormati, mampu bekerjasama, memiliki rasa empati, serta mempunyai keterampilan berkomunikasi yang baik.
“Sebagai metode yang sederhana namun sangat efektif, talking stick memberikan ruang bagi perkembangan karakter peserta didik dalam suasana yang inklusif dan menghargai setiap individu,” ujarnya. (Nop)


