Sikapi Laporan Masyarakat, F.SPBPU-K.SPSI Dumai Desak Dishub Riau Tertibkan Truk Angkutan Berat Lintasi Jembatan Sungai Mesjid

webadmin
webadmin
4 Min Read

Dirmanews.com, Dumai – Kerusakan Jembatan Sungai Mesjid Kelurahan Bangsal Aceh Kecamatan Sungai Sembilan dan kerusakan Jalan lintas Dumai – Lubuk Gaung yang belakangan ini gencar dipublikasikan bisa jadi karena “dihajar” kenderaan truk tangki CPO dan truk cargo yang melebihi kapasitas muatan, tak sesuai kapasitas Jembatan, kemudian akibat padatnya arus kenderaan truk bermuatan berat tersebut melintasi Jembatan Sungai Mesjid yang diperkirakan berukuran sepanjang 60 meter bertengger diatas Sungai Mesjid.

Kerusakan Jembatan Sungai Mesjid semakin parah diprediksi terancam ambruk, maka oleh masyarakat Kecamatan Sungai Sembilan dilaporkan kepada Gubernur Riau pada 5 Desember 2023 pelapor Amir Hamzah warga Lubuk Gaung. Laporan tersebut disikapi dan direspon Pimpinan Cabang Federasi Serikat Pekerja Bangunan dan Pekerjaan Umum Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC. F.SPBPU-K.SPSI) Kota Dumai selaku ketua Salamuddin Purba mengatakan bahwa sudah saatnya Dinas Perhubungan Provinsi Riau “turun tangan” melakukan penertiban terhadap kenderaan truk CPO dan cargo bermuatan berat tersebut, dengan sistim “buka tutup” Jembatan Sungai Mesjid adalah satu-satunya pintu keluar masuk truk angkutan berat dari dan menuju kawasan Industri Lubuk Gaung.

Laporan masyarakat kepada Gubernur Riau bukan tanpa alasan, terkait Jumlah truk bermuatan melebihi kapasitas jembatan melintasi Jembatan Sungai Dumai dalam waktu 24 jam diperkirakan mencapai seribuan unit, rentan terjadinya kecelakaan ungkapnya.

Masih kata Purba bahwa kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi Jembatan Sungai Mesjid sah-sah saja, bisa jadi karena tak mampu menahan beban berat, kemudian kenderaan truk bermuatan berat yang melintas secara berkonvoi, dan beriringan diatas jembatan tersebut tanpa ada penertiban, dan pengawasan ini sangat berbahaya, Jangan menunggu Jembatan ambruk lalu “Pemerintah sibuk bersikap” sebab bisa fatal dan beresiko besar yang bakal ditanggung masyarakat, bahkan Justru bisa merenggut nyawa manusia, selain itu berdampak terhadap aktivitas belasan perusahaan industry di kawasan Industri Lubuk Gaung yang pada gilirannya berpotensi menimbulkan kerugian bagi perusahaan itu sendiri, dan juga bisa berdampak terhadap ekonomi masyarakat dikota Dumai ujarnya mengingatakan Senin 11 Desember 2023.

“dia juga mengatakan bahwa peristiwa kecelakaa di jembatan bisa terjadi tanpa diundang, dan bisa terjadi kapan saja, dan peristiwa kecelakaan robohnya jembatan sudah terjadi dibeberapa daerah. Oleh sebab itu Dinas Perhubungan Provinsi Riau diminta keseriusannya terkait Laporan masyarakat tersebut dengan secepatnya melakukan penertiban,” ungkapnya.

Menurut Purba sapaan akrab para jurnalis bahwa kerusakan Jembatan Sungai Mesjid tampak retak – retak, dan berlobang kabarnya kondisi itu telah berlangsung lama, bisa jadi kerusakan jembatan tersebut telah menua, dimakan usia pantas untuk diganti, dan anehnya meski Dinas PU PR Pemprov Riau mendapat sorotan tajam, terkait kondisi jembatan sungai masjid tersebut terkesan tutup mata dan memekakkan telinga karena selama berlangsungnya kerusakan jembatan Sungai Mesjid diinformasikan belum ada upaya perawatan, dan justru terkesan adanya pembiaran, lanjutnya.

Pantauan dilapangan dan keterangan yang dirangkum menyebutkan bahwa untuk mengatasi ruas jalan jembatan yang berlobang dan retak retak tersebut, diinformasikan beberapa perusahaan industry yang beroperasi dikawasan Industry Lubuk Gaung berpartisipasi melakukan penambalan lobang dan ruas jalan yang retak dengan menggunakan pelat besi baja.

Dikatakan Purba meskipun Dinas PU – PR Provinsi Riau telah mengaloksikan dana untuk pembangunan duplikat Jembatan Sungai Mesjid yang dilaksanakan sejak Juni 2023 sumber dana APBD Provinsi Riau dengan nilai kontrak Rp.29.593.657.548, waktu pelaksanaan 200 hari kalender. Kontraktor penyedia Jasa PT. Karya Nitra Jaya Perkasa berujung menuai kritikan masyarakat, sebab proyek duplikat Jembatan Sungai Mesjid tersebut dihentikan, disebut-sebut bahwa terhentinya pembangunan duplikat Jembatan bahwa “alat berat” crane yang digunakan kontraktor tidak maksimal mengangkat beban berat, atau bisa jadi dikarenakan salah dalam perencanaan, khawatir kontraktor bakal merugi, “diisukan bahwa alat berat crane yang digunakan tidak mampu mengangkat beban berat,” benarkah isu tersebut perlu ditelusuri kebenarannya. (Tim)

Share this Article
Leave a comment